Selasa, 07 Januari 2014

Agama, Kebudayaan Dan Masyarakat Dalam Sosiologi Agama

A.    Pendahuluan
Hubungan antara manusia, kebudayaan dan masyarakat merupakan hubungan totalitas. Atau dalam pengertian lain, bagaimanapun, manusia tidak bisa di pisahkan dari kebudayaan dan agama. Kedua sifat tersebut dihayati oleh manusia sekaligus dalam menempuh kehidupan. Namun karena agama yang di anut oleh manusia di dunia initidak hanya satu, maka tetu saja klaim kebenaran masing-masing agama yang di anut oleh setiap orang akan muncul kepermukaan. Jika klaim itu du hadapkan pada penganut agama lain, maka sudah dapat di duga akan terjadi benturan antar pengatur agama yang masing-masing memiliki klaim kebenaran.
B.     Pengertian Agama, Kebudayaan Dan Masyarakat

Secara singkatnya marilah kita sama-sama memahami dan mengulas balik pengertian agama, kebudayaan dan masyarakat. Agar kita dapat memahami sedikitnya apa yang dimaksud didalam pembahasan ini.Agama, berdasarkan sudut pandang kebahasaan pada umumnya agama dianggap sebagai kata yang berasal dari bahasa sangsekerta yang artinya “tidak kacau”. Hal itu mengandung pengertian bahwa agama adalah suatu peraturan yang menggatur kehidupan manusia agar tidak kacau. Menurut inti makna yang khusus,kata agama dapat disamakan dengan kata religion dalam bahasa inggris, religie dalam bahasa belanda, keduanya berasal dari bahasa latin religio,dari akar kata religare yang berati mengikat. Dengan kata singkat, definisi agama menurut sosiologi adalah definisi yang empiris. Sosiologi tidak pernah memberikan definisi agama yang evaluatif (menilai). Ia “angkat tangan” mengenai hakikat agama, baik atau buruknya agama atau agama-agama yang tengah  di amatinya. Dari pengamatan ini ia hanya sanggup memberikan definisi yang deskriptif (menggambarkan apa adanya), yang mengukapkan apa yang di mengerti dan di alami pemeluk-pemeluknya.
Adapun agama dalam pengertian sosiologi adalah gejala social yang umum dan dimiliki oleh seluruh masyarakat yang ada di dunia ini. Ia merupakan salah stu aspek dalam kehidupan social dan merupakan bagian dari  system social suatu masyarakat. Agama bias dilihat juga sebagai unsure dari kebudayaan suatu masyarakat, karena suatu agama juga dapat melahirkan suatu unsur kebudayaan seperti kesenian, bahasa, system mata pencaharian, maupun system organisasi social. Dapat diketahui bahwasannya agama mmpunyai kaitan yang erat dengan kebudayaan, sekilas nya dapat kita ketahui  keudaya menurut Koentjaraningrat (1987:180) adalah keseluruhan sistem, gagasan, tindakan dan hasil kerja manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik ciri khasmasyarakat setempat.

Kebudayaan bisa terlahir, tumbuh, dan berkembang dalam suatu masyarakat, sebaliknya tidak ada suatu masyarakat yang tidak didukung oleh kebudayaan. Jadi, hubungan antara masyarakat dan kebudayaan merupakan hubungan yang saling menentukan. Dalam kaitannya kebudayaan tidak akan bias terlahir tanpa masyarakat,yang pada hakekatnya antara keduanya memiliki suatu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Kebudayaan adalah hasil budi daya manusia, ada yang mendefinisikan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya manusia menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, sedangkan rasa mewujudkan segala norma dan nilai untuk mengatur kehidupan dan cipta merupakan kemampuan berpikir dan kemampuan mental yang menghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan.

          Penduduk, Masyarakat, dan Kebudayaan adalah konsep-konsep yang berhubungan satu sama lain. Penduduk bertempat tinggal di dalam suatu wilayah tertentu dalam waktu yang tertentu pula, , dan berkemungkinan akan terbentuknya suatu masyarakat di wilayah tersebut. Demikian pula hubungan antara masyarakat dengan kebudayaan, ini adalah hubungan dwi tunggal, yang merupakan kebudayaan adalah hasil dari masyarakat. Kebudayaan bisa terlahir, tumbuh, dan berkembang dalam suatu masyarakat, sebaliknya tidak ada suatu masyarakat yang tidak didukung oleh kebudayaan. Jadi, hubungan antara masyarakat dan kebudayaan merupakan hubungan yang saling menentukan.

Ø  Penduduk adalah orang-orang yang mendiami suatu wilayah tertentu, menetap dalam suatu wilayah, tumbuh dan berkembang dalam wilayah tertentu pula.

Ø  Masyarakat adalah suatu kehiduoan sosial manusia yang menempati wilayah tertentu, yang keteraturannya dalam kehidupan sosialnya telah dimungkinkan karena memiliki pranata sosial yang telah menjadi tradisi dan mengatur kehidupannya. Hal yang terpenting dalam masyarakat adalah pranata sosial, tanpa pranata sosial kehidupan bersama didalam masyarakat tidak mungkin dilakukan secara teratur. Pranata sosial adalah perangkat peraturan yang mengatur peranan serta hubungan antar anggota masyarakat, baik secara perseorangan maupun secara kelompok.

Ø  Kebudayaan adalah hasil budi daya manusia, ada yang mendefinisikan sebagai semua hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya manusia menghasilkan teknologi dan kebudayaan kebendaan, sedangkan rasa mewujudkan segala norma dan nilai untuk mengatur kehidupan dan cipta merupakan kemampuan berpikir dan kemampuan mental yang menghasilkan filsafat dan ilmu pengetahuan. [1]

Pemahaman sosiologi atas agama tidak di timba dari “pewahyuan” yang datang dari “dunia luar”, tetapi di angkat dari eksperiensi, atau pengalaman konkret sekitar agama yang di kumpulkan dari sana-sini baik dari masa lampau (sejarah) maupun dari kejadian-kejadian sekarang.
Dalam kaitan ini harus di tegaskan lagi bahwa aliran fungsionalisme dengan sengaja dan sebagai prinsip memberikan sorotan tersendiri serta tekanan khusus apa yang telah ia lihat dari agama. Jelasnya ia melihat agama dari fungsinya. Agama di pandang sebagai suatau institusi yang lain, yang mengemban tugas (fungsi) agar masyarakat berfungsi dengan baik, baik dalam lingkup local,rasional,nasional maupun mondial. Maka dalam tinjauanya yang di pentingkan ialah daya guna dan pengaruh agama terhaadap masyarakat, serta berkat eksistensi dan fungsi agama cita-cita masyarakat (akan ke adilan dan kedamaian, dan akan ke sejahteraan jasmani dan rohani) dapat terwujud. 
Para pendiri agama maupun para pengikut serta para penganut baru sering datang dari berbagai latar belakang social – jelasnya Dari segala ragam kelas strata, atau sejenisnya. Kerena kelompok tersebut mempunyai perbedaan fungsi, dengan demikian juga menerima perbedaan ganjaran dari masyarakat, maka merekapun memiliki sikap dan nilai yang berbeda pula. Kondisi dan gaya hidup yang tidak sama telah pula melahirkan pandangan, kebutuhan tanggapan dan struktur motivasi yang beraneka. Beberapa prinsip keagamaan akan menunjukan secara jelas kaitan konkrit antara kebutuhan dan pendangan kelompok tertentu saja ketimbang kelompok lain yang kadangkala kepentingannya tak tercermin sama sekali. ( sebagai misal pandangan Kristen bahwa kekalahan Yesus yang duniawi dalam arti luas di anggap sebagai kemenangan terhadap iblis dan kematian teryata akan memiliki daya tarik yang lebih besar bagi beberapa kelas dan lapisan di banding dengan kelas dan lapisan lain  ). Karena itu kebenikaan kelompok dalam masyarakat akan mencerminkan perbedaan jenis kebutuhan ke agamaan. Akibatnya bagi sosiologi agama terbentang lapangan studi yang maha luas khususnya yang menyangkut hubungan antara agama dan struktur socsal. Tetapi disini terjadi hubuingan dua arah, tak hanya kondisi social saja yang menyebabkan lahir dan menyebarnya ide serta nilai-nilai, tetapi bila ide-ide dan nilai telah terlembaga maka, ia mempengaruhbi tindakan manusia. Karena itu sosiologi agama tidak hanya harus mempelajari pengaruh struktur social terhadap agama, tetapi juga harus mempelajari pengaruh agama terhadap struktur social.
Masyarakat bukan hanya sekedar sebuah stuktur social , teapi juga merrrupakan suatu prosees social yang kompleks. Hubungan , nilai, dan tujuan masyarakat hyanya relative stabil pada setiap moment tertentu saja; dalam dirinya selalu bergerak perubbahan yang lambat namun kumulatif. Beberapa perubahan lain mungkin berlangsung lebih cepat , sehingga mengganggu struktur yang telah mapan. Hancurnya bentuk bentuk social dan kulturalyang telah mapan dan tampilnya bentuk bentuk baru merupakan suatu proses yang berkesinambungan. Dengan demikian berbagai kelompok yang ada dalam masyarakt dipengaruhi  pula oleh berbagai perubahan sosial. Seperti halnya kelompok tertentu melakukan fungsi fungsi yang lebih berarti dan lebih dihargaiv disbanding kelompok lain , maka akan ada kelompok yang justru menentang perubahan itu dan ada pula kelompok lain yang menyokong perubahan tersebut . Dalam system yang sedang berjalan aka nada kelompok yang memperoleh manfaat besar, baik materil maupun psikologis, sedang kelompok lain mengacuhkannya atau adapula kelompok lain yang merasa perlu menentang status quo dan berniat melakukan perubahan radikal.

Kelompok yang demikian jelas akan memperlihatkan bentuk kepekaan agama yang berbeda . umpama saja tentang makna , masing masing akan menfsirkannya sesuai dengan kondisi kehidupan yang dihadapi. Durkhaim menggunakan istilah anomi untuk menunjukan keadaan disorganisasi soisal dimana berbagai bentuk sosial dan kultur yang telah mapan ambruk. Ia berbicara tentang dua aspek  dari masalah ini. Pertama hilangnya solodaritas yaitu apabila kelompok-kelompok lama dimana individu mendapatkan rasa aman dan respon cenderung ambruk. Kemudian hilangnya consensus; yaitu tumbangnya persetujuan (sering hanya bersifat semi-sadar) terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang memberikan arah dan makna bagi kehidupan kelompok. Durkhaim memandang hal ini sebagai dua sisi dari suatu proses disorganisasi sosial, dia menyatakan dua sisi itu dapat mengalami disorganisasi dalam bentuk kecepatan yang berbeda. Akibat prose situ bagi individu ialah suatu kondisi yang secara relative terpencil dan “tanpa norma”, yang di sebut Durkhaim sebagai keadaan “ anomi “ . [2]  

C.     Pengertian Kebudayaan Dan Masyarakat

Pengertian kebudayaan dan masyarakat, definisi klsik kebudayaan seperti di kemukakan oleh Edward B. Taylor adalah keseluruhan kompleks, kseluruhan pengetahuan, keyakinan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat, dan semua kemampuan dan kebiasaa lain yang di peroleh seseorang sebagai anggota masyarakat/

Berdasarkan asal-usul kebudayaan berasal dari bahasa sansekerta buddhayah (kata jamak). Bentuk tunggal : Budhi (budi atau akal), berarti semua yang bersangkutan budi dan akal. Kebudayaan dapat di bagi kedalam dua bentuk yaitu kebudayaan materi dan kebudayaan non materi. Kebudayaan materi terdiri atas benda-benda hasil karya, misalnya  alat-alat, mobil, ladang, yang di olah dan sebagainya. Sedangkan nonmateri terdiri dari kata-kata yang di pergunakan orang, hasil pemikiran, adat istiadat, keyakinan dan kebiasaan yang di ikuti anggota masyarakat.

Kebudayaan (culture) sering di campurkan dengan masyarakat (society), yang sebenarnya arti kebudayaan berbeda. Kebudayaan adalah sitem nilai dan norma. Sementara masyarakat adalah sekumpulan manusia yang secara relatif mandiri yang hidup bersama-sama dan melakukan kegiatanya  dalam kelompok. Sedangka kebudayaan adalah suatu sistem nilai dan norma yang terorganisasi yang menjadi pegangan dari masyarakat.

D.    Agama Dan Stratifikasi Sosial

Dua kesimpulan penting berkenan dengan hubungan antara agama dengan stratifikasi sosial di peroleh dari hasil penelitian Max Weber tentang agama-agama dunia : yang pertama terdapat dalam sejarah agama Kristen, Yahudi, Islam, Hinduisme, Budha, Konfusianisme, dan Taoisme – suatu hubungan yang jelas dan dapat di amati di antara posisi sosial dengan kecenderungan menerima pandangan ke agamaan yang berbeda. Yang kedua, ini bukanlah suatu penentuan yang tepat tentang pandangan ke agamaan oleh stratifikasi sosial. Sebagai misal, kelas menengah rendah, yang di anggap Weber memainkan peranan strategis dalam sejarah agama Kristen, melihatkan suatu kecenderungan yang pasti kearah “congregational religion”, kea rah agama keselamatan, dan ahirnya kea rah agama etika rasional. Ini berbeda sekali dengan kecenderungan ke agamaan kaum petani. Tetapi Weber menegaskan bahwa hal ini “ jauh dari setiap determinasi yang serupa ”. dia menegaskan bahwa dalam kelas menengah rendah, dan khusausnya di kalangan pengrajin, terdapat perbedaan besar yang saling berdampingan, dan bahwa pengrajin ini memperlihatkan suatu diversifikasi yang sangat nyata. [3]

Weber melihat hubungan kelompok ini dengan alam, jauh lebih renggang di banding dengan petani dan jauh lebih terlibat dalam kehidupan yang bertolakdari pertimbangan ekonomis yang rasional. Kerena itu cara mereka menangani situasi kehidupanmemberi kemungkinan berupakemampuan memperhitungkan dan manipulasi secara sengaja. Di samping itu dia menemukan bahwakejujuran merupakan cara prilaku yang di andalkan kelompok ini, dan mereka cenderung percaya bahwa bekerja dan berkewajiban bekerja sama akan menghasilakan suatu imbalan yang seimbang “karena alasan-alasan ini, para pedagang kecil dan kaumpengrajin bersedia menerima suatu pandangan dunia yang rasional di jiwai oleh etika pembalasan. [4] Weber juga menemukan kelas buruh industri modern di Eropa memperlihatkan pra-disposisi bagi doktrin keselamatan, tetapi lebih sering bersifat semu-agama ketimbang bersifat agama. “Dalam lingkungan rasionalisme proletar, agam pada umumnya di gantikan oleh ideology lainya”, Marx menyebut kelas buruh Eropa sebagai “proletariat”, yang di maksudnya dengan istilah ini ialah kelas yang tidak memperoleh “bagian” dalam system sosisial yang ada. Buruh bekerja dan hidup di suatu masyarakat dimana ia tidak merasa sebagai bagian dari masyarakat itu. [5] Marxisme menjadi ajaran penyelamat sekuler bagi sejumlah besar kelas buruh di masa pertengahan abad ke-19 dan pada perang dunia ke-2.

Weber juga berbicara secara umum tentang kaum elit dank kelas yang tidak memiliki hak istimewa. Ide-ide seprti keselamatan, dosa dan kerendahan hati di temukan Weber “jauh dari semua kelas elit politik” .[6] dan sebenarnya layak di cela dengan sesuai rasa kehormatan diri kelas yang demikian’: “jika hal-hal lain tetap sama, maka kelas-kelas yang punya status sosial tinggi dan yang memiliki privilese ekonomi akan kurang cenderung mengembangkan gagasan keselamatan. Sebaliknya mereka memanfaatkan fungsi agama sebagai pengabsah pola kehidupan dan kondisi mereka di dunia. [7]  Sebaliknya kelas yang tidak mempunyai hak istimewa atau yang sudah tergusur, menunjukan kecenderungan untuk merangkul dan mengembangkan agama-agama penyelamat, “menerima pandangan dunia rasional yang di jiwai oleh etika konpensasi”, [8] dan untuk memberikan persamaan derajad pada wanita dalam partisipasi keagamaan. [9]  Weber menyatakan : “selama setiap kebutuhan untuk keselamatan merupakan ungkapan dari beberapa keadaan yang sulit, maka tekanan sosial atau ekonomi merupakan sumber yang efektif bagi keselamatan keyakinan, walaupun bukan sebagai sumber ekslusif satu-satunya.[10] Sebaliknya Weber menyimpulkan “kelas-kelas yang secara ekonomis paling tidak mampu, seperti para budak dan buruh harian, tidak akan pernah bertindak sebagai pembawa panji-panji agama tertentu”. [11]


E.     Agama Sebagai Ideologi Transisi

Pada masyarakat tradisional, tujuan individu dan kelompok, dan bahkan tujuan masyarakat itu sendiri, telah di tetapkan dan di akui sejak dulu-dulu. Bila, perbauran dengan kebudayaan lain atau dengan perkembangan lain yang internal pada suatu masyarakat, timbul tujuan baru dan nilai baru, maka kepemimpinan masyarakat berada dalamkeadaan yang membutuhkan ideologi untuk mejelaskan dan merasionalisir tujuan dan nilai baru yang mendukungnya. Proses ini sering melibatkan lahirnya kelompok penguasa baru.

Bila kaum elit memperoleh kekuasan dalam priode krisis, hal ini di lakukan sebagian melalui kesanggupan mereka untuk mengarahkan masyarakat ke sekitar keinginan tujuan-tujuan baru atau lewat keahlian mereka mengungkapkan system nilai baru yang dapat diterima oleh mayoritas anggota masyarakat. System ide dan tujuan ini memberikan kerangka dimana kaum elit mengorganisir struktur kekuasaan dan kontrol yang baru. [12] Dalam abad modern, paling tidak di Eropa dan Amerika, system nilai baru dan ideologi yang membenarkanya telah bersifat sekuler.

Dalam priode-priode sejarah sebelumnya, agama sering memenuhi fungsi pelayanan ini sebagai “ideologi transisi”. Pada abad ke-8 misalnya, agama Kristen bertindak sebagai ideologi bagi penyiapan kembali tahta Karel Martel. Selanjutnya pada abad ke-10, dengan berdirinya Kerajaan Romawi Suci, agama Kristen kembali bertindak sebagai Ideologi. Kebutuhan elit baru ini dan rakyat yang sedang berada dalam transisi akan ideologi mirip dengan kebutuhan mereka yang menderita anomi akan suatu system nilai dan komunitas yang baru. Sebenarnya kedua kebutuhan ini sering di jumpai secara bersamam-sama.

F.      Kesimpulan

Masyarakat, agama dan budaya merupakan tiga komponen yang saling mengikat dan memiliki hubungan timbal balik yang sangat erat. Masyarakat sebagai subjek yang menjalankan agama dan menciptakan budaya. Karena agama  merupakan pemberian Tuhan, sedangkan budaya hasil karya cipta masyarakat.  Sehingga kedudukan agama lebih absolut dab tidak dapat diganggu gugat. Sementara budaya sangat di tentukan oleh masyarakat, yang menyebabkannya tidak absolute dan kemungkinan untuk dirubah sesuai dengan situasi dan kondisi.

Hubungan timbal balik antara agama dan kebudayaan tidak bisa terlepaskan, sebab masyarakat yang di sebut berbudaya pasti masyarakat yang mematuhi segala macam ketentuan dalam agama yang di percaya. Sebaliknya masyarakat yang beragama meiliki dam menghasillkan kebudayaan yang berdasarkan agama yang di percayai.


G.    Daftar Pustaka

Ø  Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. Sosiologi Agama, Jakarta, 1991.
Ø  D. Hendropuspito, O.C. Sosiologi Agama. Penerbit Yayasan Kanisius
Ø  Thomas F. O’Dea. Sosiologi Agama. Penerbit Yayasan Solidaritas Gadjahmada



[1] . Dr. H. Dadang Kahmad, M.Si. Sosiologi Agama, Jakarta, 1991, hal. 4
[2] . Untuk diskusi Durkhaim mengenai anomi, lihat Suicide, di terjemahkan oleh John A. Spaulding dan George Simpson (Glencoe, III: The Free Press, 1951)
[3] . Max Weber, The sociology of Religion, di terjemahkan oleh Ephraim Fishoff (Boston: Beacon Press, 1963), hal.95, 96
[4] . Ibid., hal. 97
[5] . Ibid. hal. 80, 97.
[6] . Ibid. hal. 91
[7]Ibid. hal. 90
[8] . Ibid. hal. 101
[9] . Ibid. hal. 85
[10] . Ibid. hal. 107
[11] . Ibid, hal. 97
[12] . Robert K. Lamb, Political Elites and the Process of Economic Development, The Progress of Underdeveloped Areas, Bert F. Hoselitz (ed) (Chicago: University of Chicago Press, 1952), hal. 34.

Senin, 06 Januari 2014

MAKALAH PENGANTAR ILMU FILSAFAT Pythagoras dan Alirannya


MAKALAH PENGANTAR ILMU FILSAFAT
Pythagoras dan Alirannya


Dosen Pembimbing:
Prof. Dr. Asep Muhammad

Disusun Oleh:
Suherman



UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA




I.     Pendahuluan


Tiap-tiap bangsa, betapa juga biadabnya, mempunyai dongeng dan tahayul. Ada juga yang timbul karena ke ajaiban alam, yang menjadi pangkal heran dan takut.
Dongeng dan tahayul yang di pusakakan dari nenek moyang itu menimbulkan adat dan kebiasaan hidup,yang menjadi cermin jiwa bangsa yang memakainya.
Di sinilah bedanya filosofi dengan ilmu special. Ilmu special membatasi medanya hingga alam yang dapat di alami, Alam emprika. Ilmu menghadapi soalnya dengan pertanyaan  “bagaimana” dan “apa sebabnya”. Filosofi meninjau dengan pertanyaan “apa itu”, “dari mana”. Di sini orang tidak mencari pengetahuan sebab dan akibat dari pada suatu makalah – seperti yang di selidiki oleh ilmu-, melainkan orang mencari tahu tentang apa yang sebenarnya pada barang atau masalah itu. Dari mana jadinya dan ke mana tujuanya.
Filosofi memandang alam sebagai satu soal yang bulat, Ia mencari pengetahuan yang selesai tentang alam dan penghidupan. Itiulah yang di cariya senantiasa dengan tak pernah sampai ke penghabisannya.
Nyatalah bahwa filosofi mencukil soalnya lebih dalam. Ia tidak puas menilik sesuarunya dari jurusan sebagaimana adanya. Sering ia bertanya apakah barang yang lahir itu barang yang sebenarnya ataukah  hanya bayangan dari pada suatu pokok atau sifat yanglebih dalam letaknya. Ada filosof yang mengumpamakan dunia yanglahir ini sebagai kiasan saja daripada dunia yang asli yang menjadi pokoknya. Hamper selalu dalam filosofi dipandang dua dunia , yang fana dan yang baka, yang fana itu dipahamkan sebagai tubuh sementara dari yang baka. Dalam jaman tengah filosofi kedudukannya hanya sebagai anggota akal untuk menyuluhi “ kebenaran yang lebih sempurna “ , yang didapat sebagai wahyu yang diturunkan Tuhan.



II.                Pythagoras dan Alirannya

Pythagoras lahir di pulau Samos yang termasuk daerah Ionia. Ia dilahirkan kira-kira dalam tahun 580 sebelum Masehi. Dalam tradisi Yunani diceritakan bahwa ia banyak bepergian (antara lain ke Mesir), tetapi tentang itu tidak ada kepastian apa pun. Menurut umurnya ia sepangkat dengan Xenophanes. Oleh karena kota tempat lahirnya itu diperintah oleh seorang tiran, sang-perkasa yang buas bernama Polykrates, ia berangkat dari situ dan pergi mengembara keseluruh dunia Grik. Akhirnya ia sampai disebelah selatan Penanjung Italia, di mana orang Grik berangsur-angsur mencari tempat kediaman. Pada tahun 530 SM. ia menetap di kota Kroton.

Di kota itu didirikannya sebuah perkumpulan Agama, yang disebut-sebut orang kaum Pythagoras. Perkumpulan itu menjadi sebuah tarikat. Mereka itu diam dengan menyisihkan diri dari masyarakat, dan hidup selalu dengan amal ibadat. Menurut berbagai keterangan, Pythagoras terpengaruh oleh aliran mistik yang kembang di waktu itu dalam alam Yunani, yang bernama Orfisisme.

Tarekat yang didirikan Pythagoras bersifat religius, bukan politik, sebagaimana pernah diperkirakan. Mereka menghormati dewa Apollo.Pythagoras dijunjung tinggi dalam kalangan mereka.
Iamblikhos (abad ke-3 sesudah Masehi) melukiskan hidup harian dalam tarekat itu. Tarekat dibuka baik untuk pria maupun untuk wanita.Kalau orang hendak masuk, lebih dulu ia harus menjalankan masa percobaan.Lantas ia boleh masuk, untuk memulai masa latihan yang berlangsung tiga tahun lamanya. Sesudah itu lima tahun lagi ia harus diam-diam dan dalam waktu ini milik kepunyaannya menjadi milik bersama.
Mereka juga mempraktekkan pembacaan bersama. Dan menurut kesaksian Diogenes Laertios (abad ke-3 sesudah Masehi), di waktu malam anggota-anggota tarekat mengadakan pemeriksaanbatin tentang tingkah lakunya pada hari yang lalu. Semuanya itu merupakan cirri-ciri yang mengizinkan kita mengerti kaum Pythgorean sebagai suatu aliran kebatinan.
Selain dari ahli mistik, Phytagoras tersebut juga sebagai ahli pikir, terutama dalam ilmu matematika, dan ilmu hitung kesohor namanya,  banyak pengertian yang dalam berasal dari dia, dialah yang mula-mula sekali mengemukakan teori dari hal angka-angka yang menjadi dasar ilmu berhitung. Dan karena dialah orang mendapat keinsafan, bahwa berhitung bukan saja kecakapan menghitung seperti yang dikerjakan sehari-hari. Orang yang belajar matematika kenal akan segitiga Phytagoras .

Pada akhir hidupnya  Pythagoras bersama pengikut-pengikutnya berpindah ke kota Metapontion karena alasan-alasan polotik dan ia meninggal di sana.

A.    Ajaran Tentang Jiwa / Manusia

Ada peraturan-peraturan mengenai pakaian dan mengenai pantang, hal mana tentu mempunyai hubungan dengan ajaran Pythagoras tentang perpindahan jiwa, dan apabila seorang meninggal jiwanya akan kembali lagi kedunia dan Pythagoras percaya akan kepindahan  jiwa dari makhluq yang sekarang kepada makhluq yang akan datang  yang kemudian masuk kedalam badan salah satu hewan.
Menurut suatu cerita yang maksudnya, barangkali mau menyindir. Pythagoras suatu hari sedang berjalan-berjalan, tampak olehnya seorang memukul anjing, sehingga anjing itu menjadi menjerit. Lalu ia berkata: hai sanak,  jangan dipukul anjing itu didalamnya ada jiwa seorang sahabt ku, terdengar oleh ku, dari pada  jeritnya. Menurut kepercayaan Pythagoras manusia itu asalnya tuhan,  jiwa itu adalah penjelmaan dari pada tuhan yang  jatuh kedunia karena berdosa. Dan ia akan kembali kelangit kedalam lingkungan tuhan bermula, apabila sudah habis, dicuci dosanya itu. Hidup murni adalah  jalan untuk menghapuskan dosanya itu.
Tetapi kemurnian tidak tercapai sekaligus, melainkan berangsur-angsur. Sebab jiwa itu berulang-ulang turun ketubuh makhluq dahulu. Jalan begitu dari tingkat ketingkat ia mencapai kemurnian.
Tetapi tak cukup orang hidup dengan membersihkan hidup jasmani saja. Juga hidup rohani teristimewa harus diperhatikan. Manusia harus berzikir senantiasa untuk mencapai kesempurnaan hidupnya. Menurut keyakinan kaum Pythagoras  setiap waktu orang harus menanggung jawab dalam hatinya tentang perbuatannya sehari-hari. Sebelum ia tidur malam, hendaklah diperiksanya dalam hatinya segala perbuatannya hari itu. Ia harus menanyai dirinya : apa kekuranganku hari ini ? Larangan mana yang kulanggar ? Periksa peristiwa itu sampai sehabis-habisnya. Jika ada engkau berbuat salah, hendaklah engkau rindu. Jika baik segala perbuatanmu, hendaklah engkau gembira !

Hidup ini menurut paham Pythagoras adalah persediaan buat akhirat. Sebab itu semula dari sini dikerjakan hidup di hari kemudian itu. Berlagu dengan musik adalah juga sebuah jalan untuk membersihkan ruh. Dalam penghidupan kaum Pythagoras musik itu dimuliakan.

Ujung tarekat Pythagoras ialah mendidik kebatinan dengan mencucikan ruh. Pythagoras percaya akan kepindahan jiwa dari makhluk yang sekarang kepada makhluk yang akan dating. Apabila seseorang meninggal, jiwanya kembali lagi ke dunia, masuk dalam badan salah satu hewan. Kesaksian yang tertua tentang Pythagoras berasal dari Xenophanes, juga seorang filsuf pra-sokratik dan kawan sewaktu dengan Pythagoras. Dalam empat baris sajak ia menceritakan bahwa satu kali Pythagoras mendengar seekor anjing mendengking karena dipukul dan ia menyuruh supaya pukulan itu dihentikan sebab- katanya – dalam dengkingnya ia mengenal lagi suara seorang sahabat yang telah meninggal. Dari kesaksian ini, yang tentu berbentuk sindiran, dapat disimpulkan dengan kepastian cukup besar bahwa Pythagoras sendiri sudah mengajarkan perpindahan jiwa, titik ajaran yang penting dalam mazhab Pythagorean seluruhnya.

Jadi, menurut Pythagoras jiwa itu tidak dapat mati .Sesudah kematian manusia jiwanya berpindah ke dalam hewan, dan bila hewan itu mati, ia berpindah lagi, dan seterusnya. Tetapi dengan menyucikan dirinya jiwa bisa diluputkan dari nasib reinkarnasi itu. Penyucian itu dihasilkan dengan berpantang jenis makanan tertentu, seperti hewan dan kacang. Memenuhi peraturan-peraturan semacam itu adalah unsur penting dalam kehidupan kaum Pythagorean.

B.     Filsafat Tentang Alam

Phytagoras mengatakan tentang alam bahwa alam ini katanya, tersusun sebagai angka-angka di mana ada matematik ada susunan ada kesejahteraan. Bintang yang banyak di langit itu menyatakan kedudukan yang teratur, kesejahteraan yang sebesar-besarnya. Badan-badan di langit itu mempunyai
Gerak yang tertentu dan mempunya edaran yang pasti menurut irama yang tetap. Sebab itu Pyhtagoras suka berkata tentang “ kesejahteraan di langit” Mana yang bergerak,berbunyi. Sebab itu di langit ada bunyi di timbulkan oleh gerakan bintang-bintang.Tinggi rendah bunyi lagu itu semata-mata di tentukan oleh perbandingan jarak masing-masing. Manusia tidak mendengar lagu yang sejahtera di langit itu karena ia sudah biasa dengan itu sejak lahirnya.

C.    Filsafat Tentang Matematika

Dalam filsafat Phytagoras tidak berkuasa dialam saja tetapi berkuas di matematik. Ia juga berkuasa dalam segala barang, dengan jalan ini Phytagoras sampai kepokok ajarannya yang mengatakan ” segala barang adalah angka-angka”. Demikianlah pengaruh matematikaatas dirinya dan pandangannya, sehingga pada segala barang ia melihat angka-angka tidak lain dari angka-angka yang tampak olehnya dan oleh akrena itu mistik yang dibawakan keangka angka tadi, ia terjerumus kedalam dunia fantasi dengan melekatkan berbagai faham yang ajaib pada angka angka. Menurut kebiasan Phytagoras membedakan juga angka genap dengan angka yang ganjil, tetapi pengertian itu dilanjutkannya. Yang genap itu tidak berhingga, dan yang ganjil itu menentukan. Sebagaimana angka dari pada yang genap dan yang ganjil, demikian juga barang-barang didunia ini tersusun dari pada yang bertentangan, angka yang menjadi dasar ialah satu, angka satu itu genap dan juga ganjil. Jadinya tidak berhingga dan juga berhingga angka tiga ajaib, sebab pada nya terdapat awal pertengahan dan akhir. Angka  empat maha besar, sebab 1+2+3+4=10. Dan 10 adalah angka yang sepenuh penuhnya, sebab hitungan dari itu keatas tidak lain dari mengulangi saja lagi dari 1 sampai 10.
Demikianlah caranya kaum Phytagoras mengajarkan bahwa semuanya itu angka-angka, dalam segala barang terdapat paduan dan hasil dari pada dasar angka-angka. Angka itu adalah asal dari segalanya. Segala perhubungan dapat ditentukan dengan angka-angka, demikianlah tadi: angka 1 ialah titik,  angka 2 baris, angka 3 dataran, angka 4 badan, selanjutnya angka 1 jugaa dasar laki-laki, angka 2 dasar perempuan. Keadilan juga jiwa dan pikiran tidak lain dari pada angka-angka.
Seperti dikatakan tadi, Phytagoras selain dari pada ahli mistik yang kuat beribadat, adalah juga ahli ilmu sebab itu amal dengan ilmu itu dipandangnya sebagai jalan untukmenyucikan ruh. Kesuciannya dan kejernihan ruh yang sebesar-besarnya dicapai dengan menuntut ilmu. Hidup yang ditunjukan kepada penyelidikan ilmu adalah hidup yang setinggi tingginya dan persediaan penghabisan kejalan pulang kepada tuhan.
Ajaran Phytagoras pada hakikatnya terlalu tinggi bagi pengikutnya yang banyak, sebab itu terjadi perpecahan dalam dua cabang:
1.      Aliran mistik keagamaan
2.      Aliran ilmu
Pengikutnya yang memperdalam ajaran ilmunya melengahkan ajaran agamanya, pada penghabisan abad ke-5 sebelum masehi, ahli ahli ilmu tadi tidak memperdulikan lagi, hukum tarikatnya dan menertawakan amal ruhani, dan amal jasmani yang mesti dikerjakan oleh pengikut tarikat Phytagoras, golongan ini terlepas dari tarekatnya dan kaumnya
.
Kaum Phytagoras yang terbanyak yang mendewakan gurunya tidak tertarik dengan ajaran-ajaran tentang hal angka-angka, matematik, perhubungan musik, dan ilmu bintang.
Semuanya dipandang tidak berfaidah dan terlalu gaib, mereka semat-mata menempuh jalan menyucikan ruh dengan hidup bersahaja, berjalan dengan tidak beralas kaki, dantidak makan daging,ikan, kacang.
Demikianlah gugurnya madzhab Phytagoras tetapi namanya tercantum dalam sejarah pikiran ilmu sebagi pembuka berbagai  jalan.
Pada akhir hidupnya  Pythagoras bersama pengikut-pengikutnya berpindah ke kota Metapontion karena alasan-alasan polotik dan ia meninggal di sana.
Sekianlah tentang Phytagoras dengan pengikutnya.

D.    Perbandingannya Dengan Islam

Ahli-ahli kalam (Ketuhanan), kebanyakannya berpendapat bahwa yang dikatakan manusia yaitu “rangka yang kelihatan “Manusia itu tidak akan lupa kepada dirinya walaupun ia lupa kepada anggota-anggotanya.

Di dalam Al-Qur’an ada tersebut supaya “orang jangan mengatakan orang yang mati dalam perang itu mati, tetapi yang sebenarnya mereka itu hidup lagi diberi rezki”

“Hai jiwa yang tenang, kembalilah engkau kepada Tuhanmu dengan senang lagi disenangi. Masuklah engkau kepada hamba-hambaKu. Masuklah engkau kedalam Syurga Ku”

Dalam hadis Nabi Muhammad tersebut pula : “Penolong Allah tidak mati, tetapi pindah dari satu negeri kepada lain negeri”. Demikian juga hadis yang mengatakan  : “Kuburan itu suatu taman daripada syurga atau suatu lobang daripada neraka”.

Maksud dari ayat-ayat dan hadis  diatas adalah “Bahwa apabila seseorang telah meninggal, maka ruhnya akan keluar berpindah ke alam lain yang sudah dijanjikan oleh Allah, sesuai dengan amal perbuatannya ketika masih hidup didunia. Tidak seperti yang dikatakan oleh Pythagoras bahwa ruh seseorang yang telah mati pindah ketubuh hewan (reinkarnasi).

Syari’ah mengimani penyucian jiwa atau Tazkiyat al-Nafs dan mengarah kepada hati terdalam manusia yang merupakan pusat emosi di samping mengontrol nafsu yang ditujukan untuk memiliki benda tertentu yang diharapkan akan mendatangkan kesenangan.
Nafsu sering sangat pribadi sehingga pemuasannya mengakibatkan manusia menyimpang dari jalan yang benar. Mengontrol nafsu semacam itu nampak lebih fundamental daripada memuaskannya, di mana pepatah mengatakan bahwa lebih baik, pasti, menjadi seorang manusia yang tidak kenyang daripada seekor babi yang kenyang. Karena itu manusia dilarang mengabaikan hari kiamat, dan rukun-rukun Islam – percaya pada satu Tuhan, Salat, Puasa, Zakat, dan Haji – disusun dengan cara demikian untuk menyucikan  jiwa dan mengalihkan perhatian manusia dari sifat egois kepada pengorbanan diri.

Nama-nama atau sifat-sifat daripada jiwa yang merupakan daya-daya pendorong bagi manusia dalam melakukan kegiatannya yang baik dan buruk. Nama-nama tersebut ialah :

a. Al-Nafsu’l-Ammarah. Nafsu ini selalu menyuruh manusia melakukan perbuatan keji dan munkar; menarik hati manusia untuk mencintai perbuatan itu. Nafsu ini sumber segala akhlak yang keji dan jahat.

b. Al-Nafsu’l –Lawammah. Nafsu yang telah memperoleh nur kalbu, sehingga ia sadar akan kejahatan yang dilakukannya, lalu dicelanya perbuatan itu serta melakukan taubat dengan mengucapkan istighfar.

c. Al-Nafsu’l-Mutma’innah. Nafsu ini telah memperoleh nur kalbu, sehingga hilanglah darinya sifat-sifat tercela dan diganti dengan sifat-sifat yang terpuji. Nafsu ini adalah sumber segala sifat yang baik dan mulia.

Pembersihan jiwa menurut ajaran Islam adalah dengan cara menghilangkan sifat-sifat  tidak terpuji yang terdapat pada diri seseorang seperti Hasad, Dengki, Sombong, Pemarah, dan lain-lain. Dengan mengucap istighfar, atau dengan mengetahui betapa buruknya  akibat yang akan diperoleh jika mengerjakan hal tersebut. Kalau hati / jiwa sudah terlanjur sakit, maka hendaklah diobati seperti yang dianjurkan oleh Imam Ghazali yaitu :

1.  Membaca Al-Qur’an beserta maknanya

2.  Perbanyaklah melakukan puasa sunnat

3.  Hendaklah selalu melakukan shalat malam / tahajud

4.  Sering-seringlah hadir ke dalam majlis ilmu

5.  Perbanyaklah berdzikir (mengingat Allah)

Dengan demikian secara perlahan jiwa kita akan bersih dari segala hal-hal yang mengotorinya. Tidak seperti  ajaran Pythagoras, jika ingin jiwanya bersih harus berpantangan dengan suatu makanan tertentu.

Saya sangat setuju dengan pendapat Pythagoras bahwa manusia hendaklah selalu mengontrol dirinya diwaktu malam , dengan mengingat hal-hal apa saja yang sudah diperbuatnya seharian tadi, sehingga dengan demikian manusia bisa cepat menyesali perbuatannya yang tidak baik,dengan mengucap istighfar dan segera bertaubat. Karena apa-apa yang telah diperbuat di dunia ada kaitannya dengan pertanggungjawaban di akhirat kelak.




III.             Kesimpulan

Ø  Pythagoras lahir di pulau Samos yang termasuk daerah Ionia. Ia dilahirkan kira-kira dalam tahun 580 sebelum Masehi. Dalam tradisi Yunani diceritakan bahwa ia banyak bepergian (antara lain ke Mesir), tetapi tentang itu tidak ada kepastian apa pun.
Ø  Tarekat yang didirikan Pythagoras bersifat religius, bukan politik, sebagaimana pernah diperkirakan. Mereka menghormati dewa Apollo.Pythagoras dijunjung tinggi dalam kalangan mereka.
Ø  Hidup ini menurut paham Pythagoras adalah persediaan buat akhirat. Sebab itu semula dari sini dikerjakan hidup di hari kemudian itu. Berlagu dengan musik adalah juga sebuah jalan untuk membersihkan ruh. Dalam penghidupan kaum Pythagoras musik itu dimuliakan.
Ø  Phytagoras mengatakan tentang alam bahwa alam ini katanya, tersusun sebagai angka-angka di mana ada matematik ada susunan ada kesejahteraan, Sebab itu Pyhtagoras suka berkata tentang “ kesejahteraan di langit” Mana yang bergerak,berbunyi. Sebab itu di langit ada bunyi di timbulkan oleh gerakan bintang-bintang.
Ø  Phytagoras sampai kepokok ajarannya yang mengatakan ” segala barang adalah angka-angka”. Demikianlah pengaruh matematikaatas dirinya dan pandangannya, sehingga pada segala barang ia melihat angka-angka tidak lain dari angka-angka yang tampak olehnya dan oleh akrena itu mistik yang dibawakan keangka angka tadi, ia terjerumus kedalam dunia fantasi dengan melekatkan berbagai faham yang ajaib pada angka angka.


















Daftar Pustaka


1.      Hatta Mohammad, Alam Pikiran Yunani,UIP,1986
2.      Prof. Dr. Tafsir Ahmad, Filsafat Umum,Penerbit RemajaRosdakarya bandung,2001
3.      Dr. Nasution Hasyimsyah, M.A,Filsafat Islam, Penerbit Gaya Media Pratama Jakarta
4.      Mary Evelyn Tucker & John A. Grim, Agama, Filsafat, & Lingkungan Hidup,Penerbit Kanisius.2003